Senin, 03 November 2014

7 DAYS SOMETHING PART.7 (Final)

Mataku masih terjaga. Sulit bagiku memejamkan mataku malam ini. Pikiranku terus bertanya, apakah benar semua yang dikatakan Khun tadi? Mengapa saat ini aku tidak percaya pada keyakinanku sendiri. Apakah sesulit ini membedakan yang mana kenyataan dan khayalan?

“Victoria,” Khun memanggil namaku dari depan pintu kamar penginapanku. “Biarkan aku menjelaskannya lagi. Aku tahu kau pasti bingung akan keadaan ini. Karena itu, ijinkanlah aku,” Pintanya.

Dengan langkah lunglai aku berjalan menuju pintu dan membukanya. Khun masih menggunakan kemeja yang sama. Tanpa kata kata aku hanya duduk dan bersender pada tembok. Siapa lagi yang bisa aku percaya di negeri orang seperti ini? Hanya Khun. Ya… hanya pria ini.

“Kau pasti masih bingung kan? Aku juga tak menyangka perkembangannya akan seperti ini” Jelas Khun.

“Khun, tolonglah. Aku masih tidak paham, perkembangan apa? Jika kau berbicara mengenai OCD atau apalah itu, tidak perlu kau lanjutkan. Karena, aku-baik-baik-saja. Titik!” bantahku.

“Kau tidak baik baik saja Victoria. Kau sedang sakit”

“AKU BAIK BAIK SAJA KHUN!” Aku tak sadar berteriak, Khun pun tampak tersentak. “tolonglah Khun, berhenti membuatku bingung” aku kemudian larut dalam tangisku.

Khun mendekat padaku, ia memelukku. Aku sama sekali tak menolaknya, aku malah merasa sangat nyaman, air mata mengalir begitu saja. Seoalah setiap tetes air mata yang keluar mengurangi sedikit rasa sakit dalam dadaku. Aku sesak, nyaris tak bisa bernafas.

“Maafkan aku Victoria. Aku selalu membuatmu merasa bersalah. Membuatmu terpojok” Ucap Khun sambil terus memelukku dan sesekali mencium kepalaku. “Kelak, berhentilah untuk merasa bersalah. Lanjutkan hidupmu. Jadilah seorang penari yang hebat, seperti yang cita citakan selama ini. Kelak kau harus bisa menyimpan semua kenangan kita, menjadikannya harta karunmu saja. Kau tidak perlu menoleh lagi padaku. Kau harus kembali menjadi dirimu”

Mendengar perkataan Khun, dadaku semakin terasa sesak. Tangisku semakin menjadi. “Kau… kau sudah berbuat sejauh ini, mem… membuatku seperti ini, mengapa kau bicara seolah akan… akan meninggalkanku?” Tanya ku terisak.

Pelukkan Khun semakin erat, aku bisa merasakannya. “Mungkin akan terasa sangat berat nantinya, tapi aku akan benar benar tenang, ketika kamu. Ketika kamu bisa tersenyum dan tertawa seperti dulu. Berhentilah menangis. Tuhan telah mengabulkan permintaanku, untuk membuat semua kenangan ini bersamamu. Kenangan yang aku pikir tak pernah sempat aku buat bersamamu. Kamu bisa menganggap aku tak pernah hadir dalam kehidupanmu. Kamu bisa menganggap aku hanya cerita dalam mimpi indahmu saja.”

Aku merasakan pelukkan Khun semakin samar. Aku berusaha mencari Khun, tapi aku tak menemukannya. Semakin lama jarak pandangku semakin membias. Aku tetap tak emnemukan Khun.

# # #

“Victoria! Kau sadar! Victoria sadar!”

“Victoria, syukurlah”

Sayup sayup aku mendengar beberapa orang meneriakkan namaku. Dan beberapa suara isak tangis terdengar. Aku juga mendengar suara pendeteksi nadi dan detak jantung. Dimana aku? Kenapa rasa sakit itu semakin terasa saat aku membuka mata ini?

“Kau sadar nak, syukurlah”

# # #

Kenapa belakangan begitu sulit bagiku membedakan mana nyata dan tidak. Mana ilusi dan tidak. Aku sudah tersadar dari tidur panjangku. Kata dokter sudah hampir 2 tahun aku koma. Aku mengalami kecelakaan di Bandara sepulang aku dari Seoul. Taksi yang aku tumpangi menabrak truk dan pembatas jalan. Dokter memvonis aku tak akan pernah bangun dari komaku. Tuhan, apa ini? Aku bahkan tak memahami siapa aku saat ini?

“Eonni, kau sudah sadar? Syukurlah” Gadis kecil ini, ingatanku terakhir masih mengingat dia dengan rok putih abunya, kenapa dia sudah sangat dewasa sekarang. Benarkah aku tertidur atau koma selama 2 tahun?

“Sulli, itukah kau?” Ucapku menghampirinya. Hari ini aku diijinkan pulang oleh dokterku.

“Ne eonni!” Sulli lansung memelukku. “Pabbo!” Ucapnya.

“Ya! Aku ini kakakmu!” bentakku.

“Ah… eonni, aku sangat merindukanmu!” Sulli semakin erat memelukku. “Berjanjilah, kau tidak boleh kemana mana lagi”

“Memangnya aku kemana? Aku hanya di sini kan selama dua tahun?”

“Kau tertidur 2 tahun dan 1 tahun kau seperti zombie”

“Siapa? Aku?? Seperti zombie? Apa maksudmu?” Tanyaku.

“Sudahlah, lupakan. Kau tidak harus mengingatnya. Ayo kita pulang!”

# # #

Kami tengah ada di perjalanan menuju Apartment, Sulli, adikku ini. Dia ternyata sudah bisa menyetir. Berapa banyak moment yang aku lewati dnegan Sulli “Sulli, ada yang ingin aku tanyakan”.

“um, appa eonni?” Tanyanya sambil terus menyetir.

“Kau… kau kenal Nichkhun?” tanyaku ragu.

Sulli tak menjawab. Dia tetap menyetir dan sesekali bersenandung.
"Sulli, aku bertanya padamu. Kau mengenal Khun?Khunnie? Nichkhun?"
"Tidak" jawabnya singkat dengan nada datar.
"Jangan bohong"
"Tidak, aku serius. Namanya terdengar asing. Kenapa kau tiba tiba menyebutkan namanya? Siapa kau bilang tadi? Nichkhun?"
Aku mengangguk kemudian berfikir, rasa sakitnya terlalu nyata kalau aku bilang ini mimpi.  "Kau tadi bilang 1 tahun aku hidup seperti zombie. Apa maksudmu?"
"Ah~ tak perlu kita membahas masa masa itu. Mengingatnya kembali membuatku merinding"
"Tapi aku merasa ada hal penting yang harus aku ingat".
"Tidak ada yang lebih penting dari kesadaranmu eonni~"

# # #

6 bulan kemudian~

"Ya, aku akan mulai bekerja besok. Jadi hari ini aku ingin kau menemaniku berbelanja kebutuhanku" ucapku pada Sulli via telfon. Hari ini aku diterima bekerja. Ya, aku sudah menjadi manusia normal seutuhnya. Melupakan kejadian antara nyata dan mimpi itu. Jika Khun memang hanya bunga tidurku, maka rasanya aku lebih memilih tidur sedikit lebih lama. Sulli pun sampai saat ini masih mengaku tidak mengenal Khun sebelumnya. Jadilah aku di sini, hidup dengan lembaran baru dan dengan susah payah menyimpan segala kenangan itu.
"Araseo eonni~, mau bertemu dimana kita?"
"Umm... aku masih bingung. Entahlah," aku melanjutkan berjalan kaki sembari menikmati suasana pagi ini. "Kau punya ide?"
'Tin.tin.tiiiiiin.!!!'
"AWAS!" seseorang menarikku, tidak. Lebih tepatnya menyelamatkan ku dari mobil yang hampir saja menabrakku. Suara itu, aku mengenalnya. Tiba tiba dadaku terasa sakit. Lengan pria itu masih merangkulku. Aku masih terpaku diam karena shock. "Kau baik baik saja?" Tanya pria itu.
Aku mengangguk dan betapa terkejutnya aku saat melihat wajah pria itu. "Khun?" Dia Nichkhun, bunga tidur yang selama 6 bulan ini aku berusaha lupakan dan selalu gagal. Dia pria itu.
"Oppa, kau baik baik saja?" Seorang wanita memecahkan kebekuan kami.
"Oh, iya. Aku... aku baik baik saja" jawab Khun. "Wanita ini mungkin yang terluka".
Wanita ini? Apa dia tak mengenalku? Apa dia pura pura lupa?
"Kau tidak apa apa?" Tanya wanita yang sejak tadi merangkul lengan Khun.
"Khun, kau tak mengenaliku?" Tanyaku tanpa menjawab pertanyaanku.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Khun mulai menamatiku.
"Sudahlah. Dia baik baik saja. Lebih baik kita pergi chaigya" wanita itu menarik paksa Khun yang masih mematung memperhatikanku.
"Iya. Kita pernah bertemu. Aku... aku Victoria" jelasku. Berharap Khun mengingat sedikit kenangan kita.
"Mmm.. Victoria ssi~ mian, sepertinya kau hanya salah orang." Jawab Khun.
Bagaimana aku salah orang? Kalau cara dia menyebut namaku masih sangat aku ingat. Bagaimana aku salah orang? Kalau sampai saat ini sakitnya begitu jelas terasa.
"Kau benar tak mengingatku?" Aku bingung kenangan apa yang harus aku ceritakan pada Khun. Karena aku sendiri tak yakin akan ingatanku, mana ingatanku yang nyata dan mana yang mimpi.
Apakah aku dan Khun pergi ke Seoul nyata?
Apakah aku yang menderita OCD itu nyata?
Apakah Khun yang kecelakaan itu nyata?
"Aku bahkan tak mengenalmu, bagaimana aku bisa mengingatmu nona?" Jawab Khun.
"Apa dia pacarmu?" Tanyaku.
"Ah~ iya. Dia Tiffany. Pacarku, ah tidak. Tunanganku" Jelas Khun dengan senyumnya seperti biasa.
"Hallo, aku Tifanny" wanita itu mengajakku bersalaman.
"Aku Victoria" balasku singkat. "Kau... kau benar tak mengingatku?" Tanyaku sekali lagi.
"Iya. Mohon maaf, kau sepertinya salah orang. Aku harus pergi. Ada hal yang harus ku lakukan".
"Tunggu Khun!" Aku menahannya. Aku memegang tangannya. Aku menatap matanya lebih dalam. Perasaan ini masih sama. Aku yakin, Khun bukan hanya bunga tidurku. Aku yakin Khun dan aku nyata. "Apa kau bahagia?"
"Pertanyaanmu aneh nona," sekarang wanita yang bernama Tiffany itu ikut berbicara. "Kami sudah tunangan. Mana mungkin kami tidak bahagia?".
"Iya, aku bahagia Victoria ssi~ kau tenang saja. Jadi bisakah kau ijinkan kami untuk pergi?"
Aku mematung, tak bisa menjawab apa pun. "Khun, bagaimana aku bisa menganggapmu mimpi?" Tanyaku lirih. Aku yakin Khun tak akan mendengarnya. Bagaimana ini? Aku harus berbuat apa? Apakah akan mudah merelakan melihat Khun dan wanita itu?
Baiklah~ biarlah Khun bersama Tiffany.
Samar samar aku mendengar beberapa orang berteriak kepadaku. Pandanganku mulai tak jelas dan kepalaku terasa sangat sakit. Aku tahu ada sesuatu yang besar mendekat ke arahku. Tapi tubuh ini terlalu lemas untuj bergerak. Aku bisa merasakan jelas tubuhku terhempas.
"Ya! Pabo! Victoria ssi~!!!" Pria itu kembali kepadaku. Ternyata benar, apa yang ku ingat selama ini bukan mimpi.
Aku tak bisa merasakan seluruh tubuhku. Aku bisa merasakan kerasnya aspal yang menyentuh wajahku.
"Victoria! Kau harus bertahan! Tolonglah Voctoria, maafkan aku. Tolonglah! Kau harus bertahan" aku melihat Khun menangis, aku merasakan dia memelukku.
"Aku mencintaimu Victoria! Demi Tuhan Victoria, maafkan aku!"
Banyak hal yang ingin aku katakan dan kutanyakan. Tapi sepertinya aku sudah cukup puas, dengan ucapanmu Khun. Bahwa kau... memang milikku, bahwa kau... bukan hanya khayalanku. Terimakasih Khun, untuk kenangan selama ini. Terimakasih.

# # # 

Biarlah aku melihat kebahagian mereka dari sini, namun jangan pernah paksa aku untuk melupakannya. Jangan pernah paksa diriku untuk menganggapnya mimpi.
Kenangan tentang aku dan Khun, semua nyata bagiku,

Sekali lagi, jika memang aku dan Khun hanya ditakdirkan dalam mimpi, Tuhan biarkanlah aku tertidur, jika dalam mimpi aku tetap bisa memiliki Khun. Aku tak perlu pengakuan orang mengenai hubungan kami, biarlah aku dan Khun saja yang merasakan bahagianya. Buat aku tertidur panjang Tuhan... terimakasih atas perjalanan ini Tuhan.

# # #

Tidak ada komentar:

Posting Komentar